Sekumpulan binatang terbang di atas langit. Sampai di
permukaan bumi berubah menjadi manusia mengerang beberapa penduduk.
Desa menjadi kacau dibuatnya. banyak menjadi koban dari kebengisanya.
Mayat bergeletakan di tanah. Rasa haus dengan darah membuat makluk ini
tidak punya hati. Manusia di ibaratkan binatang ternak yang siap untuk mangsa.
Di ambil saripati kehidupannya. Tangisan dan jeritan para penduduk desa.
Ketakutan setiap wajah para penduduk yang tidak bisa diungkapkan lagi. Banyak
yang sudah mencoba untuk melawan kebengisan vampir. hal hasil gagal. Lebih
banyak lagi mernjadi korban.
Suatu hari
ada seorang anak kecil datang kedesa. Dengan memakai jubah. Ia terlihat seperti
musafir. Setiap rumah di ketuk untuk sedikit meminta makanan. Orang desa banyak
yang tidak sempati dengan orang asing. Kemudian ada seorang nenek yang baik
hati memberikan ia makanan serta tempat tinggal untuk beberapa hari.
” siapa nama mu nak ?,” Tanya nenek.
“ nama saya Ren…..nek,” jawabnya dengan penuh
ketenangan.
Ren ingin tahu tentang keadaan desa ini dengan lebih
mendetail. Sang nenek yang hidupnya sendiri karena di tinggal anaknya.
Jadi korban vampire. Ia pun bercerita dengan derai air mata mengalir
membasahi pipinya. Ren berusaha tidak lagi mencari tahu tentang keberadaan desa
ini. Ren tidak ingin melihat lagi kesedihan yang di landa nenek.
******
Ren baru saja menutup matanya. Terjadi kegaduhan
di luar. Para vampire mulai berburu. Desa jadi kacau balau dibuatnya. Ren
keluar dari rumah nenek ingin membantu warga untuk mengusir para vampir
kelaparan itu. Tiba-tiba vampir itu di depan Ren. Dengan berani Ren bertarung.
Kekuatan bocah kalah jauh dengan vampir. Belum lagi kecepatan vampir yang
melancarkan beberapa serangan yang mengenai telak ketubuh Ren
Ren roboh ke tanah. Dalam keadaan hampir tidak
bisa bangun. Segenap kekuatan yang tersisa Ren berusaha untuk berdiri.
Disaat itu Ren mengalami kesakitan yang luar biasa dari tangan kirinya.
“ ah…………ah…….,” teriakan Ren yang berusaha
menahan sakit.
Lambang kutukan itu mulai beraksi. Ren berusaha untuk
sadar diri dari penderitaan itu. Vampir tidak peduli dengan keadaan Ren.
Menghajar Ren lagi sampai tumbang. Disaat ketidak berdayaan vampir memegang tubuh Ren. Ia
muali mengeluarkan taringnya. Rasa hausnya tidak bisa di pungkiri. Di saat
taring berada diatas kulit bagian leher. Sontak kaget vampir ia
melepaskan tubuh sang Ren. Vampir merasa ketakutan dengan aura yang
keluar dari Ren. Dengan sekejab Ren berubah menjadi sesosok binatang.
Binatang itu menjadi buas mengejar vampir. Menerkam
vampir dengan taring yang tajam di bagian leher. Menggigitnya sampai vampir
tidak berdaya dan akhirnya mati menjadi debu. Sang binatang meraung
seperti singa. Lengkinganya membuat para vampir ketakutan. Vampir pun pergi dari desa dengan meninggalkan semua
buruannya. Ren dalam keadaan tidak sadarkan diri. Para penduduk melihat
kejadian itu dan berusaha mengusir mengusir binatang buas. mereka
beranggapan binatang buas sama bahayanya dengan vampir. Sang nenek keluar
dari persembunyiannya. Ia ingin menghentikan para penduduk. Sang nenek
menjelaskan kejadiannya kepada para penduduk siapa sebenarnya makluk buas yang
berwujud singa. Bertarung mengalahkan vampir dan menyelamatkan desa.
Dalam keadaan berusaha menjelaskan semuanya. Tiba –tiba
singa berusaha untuk menerkam nenek. Semua orang kaget. Tapi sang nenek
tetap saja berusaha tenang dari keadaan itu. Jauh di alam sadarnya sang bocah. Sang bocah bertarung dengan kutukan yang selama ini
membelenggu dirinya. Terdengar suara nenek samar-samar. Ia mulai berusaha
melawan kekuatan yang ada dalam dirinya. Dengan sekuat tenaga.
“ Ren…ren.. sadar…sadar….kamu nak,” kata nenek
memanggilnya.
Ren kembali kewujud manusianya. Nenek pun memeluk Ren.
Air matanya mengalir dengan deras, tapi kali ini beda tangisnya adalah tangis
bahagia. Semenjak kejadian itu desa kembali seperti semula. Keceriaan terlihat
dari wajah-wajah mereka. Ren menjadi penjaga desa dari serangan vampir. Ren pun senang karena ada tempat untuk pulang. Selama
bertahun-tahun membara. Tinggal bersama nenek yang mencintainya.

No comments:
Post a Comment