Hari semakin larut. Kursus
pendidikan malam pun selesai. Guru yang mengajar meninggalkan ruang kelas. Anak
didik mulai berbenah memasukan bukunya ke dalam tasnya begitu juga Genta. Para murit keluar dari
ruangan kelas. Petugas tempat kursus datang dan berbenah dan mematikan semua
ruangan kelas.
“ dah semuanya,” kata Genta.
“ ya sampai bertemu besok,”
jawab teman-teman yang lain.
Genta berjalan tortoar sambil melihat sekitar. Sampai di
persimpangan jalan Genta hendak menyebrang di antara para pejalan kaki lainnya.
Kendaraan hilir mudik di hadapan Genta.
Dengan sabar para pejalan kaki menunggu. Waktu lampu berwarna hijau tanda
pejalan kaki boleh lewat. Bergeraklah mereka semua menyebrang melewati zebra
cros sampai ke seberang. Tiba- tiba suasana Genta aneh menghentikan membaca
bukunya dan melihat langit yang bertabur bintang dan bulan purnama bersinar
terang.
Genta mulai bergerak
melewati gang-gang. Tidak menyadari Genta melewati kuburan. Sejenak Genta
berhenti di depan pintu masuk kuburan. Perasaan takut memang ada pada diri
Genta. Terkadang Genta memberanikan diri untuk lewat daerah sekitar situ.
Terkadang Genta selalu melihat ke atas bukit makam kuno. Menurut cerita bahwa
yang tidur di makam kuno tersebut adalah seorang pejuang hebat di masanya.
Seorang pendekar pedang yang membantai prajurit kerajaan dengan berani. Gerakan
pedangnya sangat mematikan. Julukan pendekar tersebut iblis petarung. Banyak
nyawa melayang di ujung pedangnya.
Genta mendengar sesuatu di
atas bukit. Dengan berani Genta masuk ke dalam kuburan. Dengan melewati jalan
setapak dan beberapa anak tangga di naiki Genta sampai puncak bukit di mana
makan kuno itu berada.
“ apa mungkin aku salah
dengar, dan juga kalau lewat sini akan cepat sampai rumah,” celoteh Genta.
“ bintang hari ini indah
sekalikan,” suara berbisik.
Mendengar suara
tersebut Genta berreaksi dan memandangi
langit bertabur bintang di dalam kuburan.
“ siapa itu?,” terkejut
Genta.
Terlihat sesosok yang baru
bangun dari duduknya di sebuah makam kuno.
“ kamu melihat bintang juga?.
Ayo ke sini kita nonton bersama,” ujar pemuda berbaju putih dan bercelana
panjang.
“ terima kasih dan juga kita
hanya berdua,” jawab Genta.
“ para arwah,” kata pemuda
berbaju putih dan bercelana panjang.
“ haa,” sontak kaget Genta
mendengarnya.
Dengan seksama Genta melihat
pemuda bersama parah arwah di sekelilingnya dekat makam kuno. Tanpa berpikir
panjang Genta mulai merinding sekujur tubuhnya. Makin lama perasaan Genta
menjadi resah dan tidak terkendali.
“ aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
.......................setan........................,” teriak Genta.
Dengan langkah seribunya
Genta berlari meninggalkan kuburan langsung menuju ke rumahnya.

No comments:
Post a Comment