Wednesday, January 10, 2018

Carelessness

Rasa penasaran Genta tentang Hantu membuatnya tidak bisa tidur. Membawa kamera untuk memotret hantu di kuburan tua. Berjalan lah Genta dengan perlahan-lahan menuju kuburan tua. Genta sampai di kuburan tua tengah malam.  Saat mau memotret hantu malah ke temu dengan berandalan kota.  Riu the Geng namanya. Genta tidak bisa lari dari sergapan Riu. dan kawan-kawannya. Genta berusaha melarikan diri. Tetapi tertangkap oleh kawan-kawan Riu.
 
Genta habis di hajar Riu dan kawan-kawannya. Genta babak belur di hajar kelompok berandalan kota, sekaligus kameranya di rampas. Riu dan kawan-kawannya meninggalkan Genta dengan tidak berdaya dan pada akhirnya pingsan. keesokan harinya Genta sadarkan diri.  Dengan keadaan terluka parah akibat hajaran anak berandalan Genta pulang ke rumah. Belum sampai di rumah  di tolong oleh tetangganya yang baik bernama Meling.


“ kenapa kamu Genta?,”  tanya Meling.


“ ahhh Cuma terjatuh,” kata Genta menutupi kejadian.


“ kamu kurang hati-hati, kalau begitu ayo kerumahku saya obatin,” kata Meling.


“ ya,” jawab Genta menahan sakit.


Genta masuk ke rumah Meling.  Di dalam rumah Genta duduk di ruang tamu menunggu Meling mengambil obat dan perban. Dengan penuh kelembutan Meling membersihkan luka Genta, lalu di beri obat septik baru di perban.  Setelah semua luka di bersihkan dan di perban Genta di suruh istirahat. Meling merawat Genta dengan baik.  segera Meling membawa kembali obat dan perban di simpan di tempat biasanya.  Setelah itu Meling membuatkan makan untuk Genta.


“ Genta saya membuatkan makan untuk kamu untuk meningkatkan metabolisme kamu. Silakan dimakan,” kata Meling.


“ oh...repot-repot amat Meling sama saya,” kata Genta.


“ oh gak repot kok, Cuma saya ingin menolong saya. Silakan di makan supnya,” ujar Meling.


“ terima kasih Meling,” sahut Genta dengan air mata sedih.


“ kenapa kamu menangis?,” tanya Meling.


“ eeh karena tidak ada orang yang seperhatian ini sama saya,” kata Genta.


“ ya..udah jadi jangan bersih lagi, semoga Genta cepat sembuh,” kata Meling.


Meling kembali ke dapur untuk membereskan pekerjaannya. Genta dengan santai memakan supnya  dan jus jeruk yang di sediakan Meling. Beberapa lama Genta  istirahat di rumah Meling merasa baikkan. Tubuh Genta mulai merasa enak. Genta meminta izin untuk pamit pulang sama Meling. Dengan penuh kerendahan hari Meling mengizinkan Genta pulang.


“ oh ya Genta hati-hati di jalannya,” kata peringatan/ nasehat Meling.


“ ya terima kasih banyak,” kata Genta.


“ ya...sama-sama,” jawab Meling dengan senyuman.


Genta pulang ke rumah tidak jauh dari blok. Sampailah Genta di rumahnya langsung Istirahat.


Keesokan harinya Genta merasa baikkan dan berangkatlah ke sekolah. Selang berapa saat sampai juga genta di sekolahnya.  Sampai di dalam ruangan kelas teman-temannya melihat Genta tercengang.


“ kenapa kamu Genta?,” tanya Bun.


“ oh saya di gebukin gerombolan anak berandalan,” kata Genta.


“ kenapa kamu bisa di gemukin sama mereka ada masalah apa?,” tanya Mita.


“ eeee..saya hanya ingin memotrek hantu, tapi malah bertemu dengan kelompok Riu,” sedikit cerita Genta.


“ itu mah lebih parah dari hantu, kalau bertemu dengan kelompok Riu,” sahut Cuy.


“ itu benar sekali gerombolan itu sudah banyak bikin onar,” sahut Bun.


“ jadi kamu harus berhati-hati Genta jangan sampai ke temu gerombolan anak nakal,” sahut Mita


“ ya..tapi saya ingin membuktikan kalau saya melihat hantu,” kata Genta.


“ gak usah cerita kebohongan tentang hantu lagi,” kata Bun.


“ beneran saya lihat hantu,” kata tegas Genta.


Datanglah Yo ke dalam kelas saat genta ngobrol dengan teman-temannya.


“ itu benar dia melihat hantu,” kata Yo.


“ haaaaa,” terkejut  semua teman-temanya sekelas.


Guru masuk ke dalam kelas. Para murid semua kembali kemejanya masing-masing. Pelajaran pun di mulai. Sang guru menjelaskan tentang mata pelajaran Fisika. Para murid mendengarkan dengan baik guru menerangkan. Sampai waktu sekolah usai. Genta pulang meliwati koridor sekolah dengan penuh keadaan galau. Yo pundatang menemani Genta. 


“ jangan bersedih hati,” kata Yo.


“ gak ada yang percaya dengan cerita ku,” kata Genta.


“ sudah lah cukup saya percaya, sudah kan,” ujar Yo.


“ iya ...itu benar,” kata Genta.


Yo mengajak Genta untuk pulang bersama. Dengan perasaan senang Genta menerima ajakan Yo. Mereka menadi teman akrab di perjalan sampai pulang ke rumah masing-masing. 

No comments:

Post a Comment