Rasa penasaran Genta tentang
Hantu membuatnya tidak bisa tidur. Membawa kamera untuk memotret hantu di
kuburan tua. Berjalan lah Genta dengan perlahan-lahan menuju kuburan tua. Genta
sampai di kuburan tua tengah malam. Saat
mau memotret hantu malah ke temu dengan berandalan kota. Riu the Geng namanya. Genta tidak bisa lari
dari sergapan Riu. dan kawan-kawannya. Genta berusaha melarikan diri. Tetapi
tertangkap oleh kawan-kawan Riu.
Genta habis di hajar Riu dan
kawan-kawannya. Genta babak belur di hajar kelompok berandalan kota, sekaligus
kameranya di rampas. Riu dan kawan-kawannya meninggalkan Genta dengan tidak
berdaya dan pada akhirnya pingsan. keesokan harinya Genta sadarkan diri. Dengan keadaan terluka parah akibat hajaran
anak berandalan Genta pulang ke rumah. Belum sampai di rumah di tolong oleh tetangganya yang baik bernama
Meling.
“ kenapa kamu Genta?,” tanya Meling.
“ ahhh Cuma terjatuh,” kata
Genta menutupi kejadian.
“ kamu kurang hati-hati,
kalau begitu ayo kerumahku saya obatin,” kata Meling.
“ ya,” jawab Genta menahan
sakit.
Genta masuk ke rumah
Meling. Di dalam rumah Genta duduk di ruang
tamu menunggu Meling mengambil obat dan perban. Dengan penuh kelembutan Meling
membersihkan luka Genta, lalu di beri obat septik baru di perban. Setelah semua luka di bersihkan dan di perban
Genta di suruh istirahat. Meling merawat Genta dengan baik. segera Meling membawa kembali obat dan perban
di simpan di tempat biasanya. Setelah
itu Meling membuatkan makan untuk Genta.
“ Genta saya membuatkan
makan untuk kamu untuk meningkatkan metabolisme kamu. Silakan dimakan,” kata
Meling.
“ oh...repot-repot amat
Meling sama saya,” kata Genta.
“ oh gak repot kok, Cuma
saya ingin menolong saya. Silakan di makan supnya,” ujar Meling.
“ terima kasih Meling,”
sahut Genta dengan air mata sedih.
“ kenapa kamu menangis?,”
tanya Meling.
“ eeh karena tidak ada orang
yang seperhatian ini sama saya,” kata Genta.
“ ya..udah jadi jangan
bersih lagi, semoga Genta cepat sembuh,” kata Meling.
Meling kembali ke dapur
untuk membereskan pekerjaannya. Genta dengan santai memakan supnya dan jus jeruk yang di sediakan Meling.
Beberapa lama Genta istirahat di rumah
Meling merasa baikkan. Tubuh Genta mulai merasa enak. Genta meminta izin untuk
pamit pulang sama Meling. Dengan penuh kerendahan hari Meling mengizinkan Genta
pulang.
“ oh ya Genta hati-hati di
jalannya,” kata peringatan/ nasehat Meling.
“ ya terima kasih banyak,” kata
Genta.
“ ya...sama-sama,” jawab
Meling dengan senyuman.
Genta pulang ke rumah tidak
jauh dari blok. Sampailah Genta di rumahnya langsung Istirahat.
Keesokan harinya Genta
merasa baikkan dan berangkatlah ke sekolah. Selang berapa saat sampai juga
genta di sekolahnya. Sampai di dalam
ruangan kelas teman-temannya melihat Genta tercengang.
“ kenapa kamu Genta?,” tanya
Bun.
“ oh saya di gebukin
gerombolan anak berandalan,” kata Genta.
“ kenapa kamu bisa di
gemukin sama mereka ada masalah apa?,” tanya Mita.
“ eeee..saya hanya ingin
memotrek hantu, tapi malah bertemu dengan kelompok Riu,” sedikit cerita Genta.
“ itu mah lebih parah dari
hantu, kalau bertemu dengan kelompok Riu,” sahut Cuy.
“ itu benar sekali
gerombolan itu sudah banyak bikin onar,” sahut Bun.
“ jadi kamu harus
berhati-hati Genta jangan sampai ke temu gerombolan anak nakal,” sahut Mita
“ ya..tapi saya ingin
membuktikan kalau saya melihat hantu,” kata Genta.
“ gak usah cerita kebohongan
tentang hantu lagi,” kata Bun.
“ beneran saya lihat hantu,”
kata tegas Genta.
Datanglah Yo ke dalam kelas
saat genta ngobrol dengan teman-temannya.
“ itu benar dia melihat
hantu,” kata Yo.
“ haaaaa,” terkejut semua teman-temanya sekelas.
Guru masuk ke dalam kelas.
Para murid semua kembali kemejanya masing-masing. Pelajaran pun di mulai. Sang
guru menjelaskan tentang mata pelajaran Fisika. Para murid mendengarkan dengan
baik guru menerangkan. Sampai waktu sekolah usai. Genta pulang meliwati koridor
sekolah dengan penuh keadaan galau. Yo pundatang menemani Genta.
“ jangan bersedih hati,”
kata Yo.
“ gak ada yang percaya
dengan cerita ku,” kata Genta.
“ sudah lah cukup saya
percaya, sudah kan,” ujar Yo.
“ iya ...itu benar,” kata
Genta.
Yo mengajak Genta untuk
pulang bersama. Dengan perasaan senang Genta menerima ajakan Yo. Mereka menadi
teman akrab di perjalan sampai pulang ke rumah masing-masing.

No comments:
Post a Comment