“ takut,” kata Mosuke
“ suut,” kata Amidamaru.
Amidamaru dan Mosuke turus
bersembunyi sampai para penjahat pergi. Setelah para gerombolan penjahat pergi.
“ ayo kita keluar, mereka sudah pergi,” kata Amidamaru.
“ ya ,” jawab Mosuke.
Bergegaslah Mosuke dan
Amidamaru keluar dari persembunyiannya dari bilik rumah. Mereka berdua
menghampiri mayat-mayat warga desa yang bergelimpangan.
“ ayo kita kuburkan para
warga desa dengan layak,” kata Amidamaru.
“ ayo Amidamaru,” jawab
Mosuke.
Mereka berdua mengambil gerobak dan pacul. Lalu
mengangkut mengangkut satu-satu mayat angakat ke gerobak segera di bawa ke sebuah tempat tidak jauh desa. Amidamaru dan
Mosuke menggali tanah dengan pacul saling bergantian. Mayat di kuburkan dengan
layak oleh Amidamaru dan Mosuke. Pekerjaan itu mereka lakukan sampai para warga
desa di makamkan semua.
“ akhirnya selesai juga,”
kata Mosuke.
“ ya....,” jawab Amidamaru.
Kembalilah mereka ke desa
mereka dengan semua peralatan di bawa. Sampai desa gerombolan penjahat dateng
lagi.
“ Amidamaru gimana ini
mereka dateng,” kata Mosuke.
“ tenang Mosuke....” sahut
Amidamru.
Kemudian Amidamaru mengambil
pedang untuk berjaga-jaga. Para gerombolan penjahat mendatangi mereka berdua.
“ jadi masih ada yang
tersisa dari desa ini,” kata Penjahat.
“ kalau begitu kita habisi
saja. Coba lihat anak yang berambut panjang
itu memegang pedang,” kata teman penjahat.
“ itu benar sekali... kalau
begitu saya akan menghajar anak sombong yang memegang pedang itu,” kata
penjahat.
Dengan mencabut pedangnya
dari sarungnya penjahat menyerang Amidamaru yang menjaga dirinya dengan pedang.
“ Mosuke mundur dan
bersembunyi,” kata Amidamaru.
“ baik,” jawab mosuke.
Penjahat dateng dengan
sabetan pedangnya. Amidamaru melihat pergerakannya dengan matanya, lalu
menghindari serangan tebasan musuh dengan instingnya. Segera Amidamaru menikam
musuh dengan pedangnya.
“ eeee..aahh,” suara
terakhir penjahat.
“ ha...brengsek dia membunuh
temanku,” kata penjahat dengan marah.
Penjahat menyerang kembali
ke hadapan Amidamaru. Pedang musuh di
tikamkan ke depan muka Amidamaru. Dengan cepat Amidamaru menghindari serangan
musuhnya, dengan segera menebasnya di bagian
tenggorokannya.
“ eeee...aahhh,” teriakan
terakhir penjahat sambil menutupi pendarahanya dengan tangan kirinya.
“ haaaa..........hebat
juga,” kata bos penjahat.
“ sial banget anak itu telah
membunuh teman kita,” kata penjahat.
Para penjahat dateng dengan mengkroyok Amidamaru.
Melangkahlah Amidamaru ke mayat penjahat
dan mengambil pedangnya. Para penjahat meyerang
Amidamaru seperti binatang liar. Pedang para penjahat di ayunkan ke hadapan
Amidamaru. Kesigapan Amidamaru. Menangkis semua serangan musuh, lalu dengan
cepat menebas kebagian tubuh mereka satu
persatu.
“ eeee...aaah,” suara para
penjahat tumbang.
“ sembilan orang telah kalah
oleh Amidamaru tinggal satu lagi
biangnya,” kata Mosuke menghitung.
Amidamaru. Berusaha bersiap
menghadapi pemimpinya. Turunlah bos penjahat dari kuda. Mengambil sebuah tombak
dari kuda.
“ hebat juga ...kamu anak
kecil siapa namamu?,” tanya Penjahat.
Amidamaru tetap terdiam
tidak menjawab pertanyaan musuh. Bos penjahat menunggu jawaban dari anak kecil
tersebut tak satu kata terucap.
“ kalau tidak menjawab
berati kamu bisu....kalau begitu mati
saja kamu anak kecil,” kata bos penjahat.
Bos penjahat menyerang
dengan memegang tombak dan berlari cepat ke arah Amidamaru. Mulai Amidamaru
menangkis serangan tombak dengan pedangnya. Tetapi karena musuh sangat kuat
Amidamaru terdesak oleh serangan tersebut. Kemudian Amidamaru menekan serangan
tersebut langsung bergerak ke arah kanan. Pedang yang di tangan kirinya di
lepaskan.bergeraklah cepat Amidamaru dengan menusuk musuh bagian tenggorokannya
dengan pedang.
“ eeeee...kenapa bisa aku di
kalahkan anak kecil?,” kata terakhir musuh.
“ karena kamu mempunyai
celah yang tidak kamu lindungi,” jawab Amidaru.
Bos penjahat pun tumbang dan
jatuh ke tanah. Mosuke mendatengi Amidamaru.
“ hebat kamu Amidamaru
menghabisi mereka sendirian,” kata Mosuke.
“ ya...tetapi mayat mereka
ini merepotkan,” kata Amidamaru.
“ eh...itu gamapang nanti
saja setelah kita makan,” kata Mosuke.
“ ya...juga...sih tapi kan
bau Mosuke,” kata Amidamaru.
“ biarin aja.....,” kata
Mosuke.
“ ayo cari makan..aku lelah
bertarung,” kata Amidamaru.
“ ayo...,” sahut Mosuke.
Mereka berdua meninggalkan
mayat penjahat begitu saja kembali ke rumah. Amidamaru dan Mosuke bekerja sama
membuat makan supaya energi tubuh mereka pulih. Selang berapa lama mereka
memasak di dapur akhirnya mereka berdua
menyantap dengan sangat lahap. Setelah
selesai makan baru mereka menguburkan mayat para penjahat sampai pagi hari.
Kemudian mereka berdua beristirahat dengan tenang karena saling menjaga. Saat
istirahat Mosuke mengajak Amidamaru ngobrol.
“ Amidamaru saya berjanji
akan membuatkan mu pedang yang paling hebat,” kata Mosuke.
“ ya.. saya akan jadi
pendekar pedang yang hebat,” jawab Amidamaru.
Karena sebuah janji mereka berdua mereka membangun
diri mereka menjadi sosok yang lebih dewasa. Suatu ketika seorang penguasa
mengadakan sebuah sainbara pembuatan pedang. Amidamaru dan Mosuke tertarik
dengan sainbara itu.
“ wah Amidamaru jika menang
pedang kita akan di bayar sangat mahal dan juga kamu bisa jadi seorang
perajurit,” kata Mosuke.
“ ya ...itu betul sekali
Mosuke, jadi kita bisa terbebas dari kemiskinan,” kata Amidamaru.
“ ya itu benar
sekali....kalau begitu saya harus bekerja keras untuk menang,” kata Mosuke.
“ ya...saya akan membantu
kamu Mosuke,” ujar Amidararu.
Mereka berdua bergegas
mengumbulkan bahannya dan menciptakan pedang yang paling hebat. Dengan usaha
yang keras Mosuke berhasil membuat pedang yang hebat yang dia beri nama
herusame. Amidamaru membantu dalam pembuatan pedang hebat herusame. Setelah
selesai membuat pedang herusame, mereka kedua pergi kerajaan untuk menyerahkan
hasil kerja mereka.
Sampai di dalam istana
kerajaan bertemu dengan patuka Tong pekerjaan Mosuke dan Amidamaru di terima.
Sainbara pun di menangkan oleh Mosuke karena pedang yang di buat sesuai
keinginan paduka Tong. Amidamaru dan Mosuke senang sekali dengan kemenaangan
itu.
Amidamaru pun di angkat
menjadi perajurit kepercayaan paduka Tong. Suatu malam paduka Tong memanggil
Amidamaru untuk menghadap.
“ Amidamaru pedang yang di
buat Mosuke ini sangat bagus sekali. tetapi
penciptanya ini harus di bunuh. Karena lebih baik pedang ini
satu-satunya di dunia dari pada talenta Mosuke itu berbahaya dapat menciptakan
pedang yang lainnya,” kata perintah paduka Tong.
“ he...,” Amidamaru
tercengang oleh perintah paduka Tong.
“ gimana Amidamaru?,” tanya
paduka Tong.
“ saya tidak akan
melakukannya,” jawab Amidamaru.
“ jadi kamu mentang saya,” kata patuka Tong.
“ maaf kan saya, tetapi saya
tidak bisa menghiati teman saya,” kata Amidamaru.
“ ya...sudah itu mau kamu
berarti sudah pendirian kamu. Saya menganggap menentang titah raja,” kata
paduka Tong.
“ sekali lagi maaf
saya...kalau begitu saya permisi,” kat Amidamaru.
Amidamaru segera meninggal
kediaman paduka Tong. Dengan terburu Amidamaru membawa perlengkapannya pergi ke
tempat Mosuke tinggal. Di sebuah perbukitan Amidamaru dan Mosuke bertemu.
Amidamaru menceritakan segalanya kepada Mosuke. Mendengarkan semua cerita
Amidamaru kalau Mosuke mau di bunuh, langsung marah sekali. Mosuke menyesal
membuat pedang terhebat itu. Mosuke mengajak Amidamaru untuk melarikan diri,
tetapi Amidamaru tidak mau ia hanya ingin melindungi Mosuke. Mendengarkan
keteguhan hati Amidamaru mau lindungi Mosuke terasa tenang dan senang sekali. Mosuke
berjanji akan membuat pedang yang hebat lagi untuk Amidamaru. Lagi-lagi
Amidamaru terlihat bahagia dengan perkataan Mosuke masih kecil yang ingin
membuatkan pedang untuknya.
Para prajurit datang ke
tempat ke tempat pertemuan Amidamaru dan Mosuke. Amidamaru menyuruh Mosuke
bersembunyi. Para prajurit berhadapan dengan Amidamaru.
“ mana Mosuke?,” tanya
prajurit.
“ tidak tahu,” jawab
Amidamaru.
“ kalau begitu kamu menentah
perintah paduka Tong. Jadi kamu harus di habisi,” kata prajurit.
“ baiklah kalau itu mau
kalian,” kata Amidamaru.
Amidamaru mengeluarkan
pedang gandanya dan bersiap bertarung. Para prajurit menyerang Amidamaru dengan
kroyokan. Dengan gagah perkasanya Amidamaru menebas semua prajurit dengan
dengan teknik tarian pedang kembar. Para prajurit tumbang semua yang tersisa
oleh Amidamaru di tumpukan mayat. Dengan keletihan Amidamaru berusaha untuk
bertahan. Paduka Tong parajuritnya seratus orang tewas semua membuat geram dan
marah, lalu mengirimkan parajurit lagi untuk membunuh Amidamaru dan Mosuke.
Pada akhirnya Amidamaru tewas dengan kehabisan tenaga membunuh banyak prajurit.
Sedangkan Mosuke tertangkap dan dibunuh. Semenjak itulah Amidamaru di kenal
dengan iblis petarung dengan membunuh seratus orang dengan teknik pedangnya
yang menyeramkan. Mosuke menjadi hantu penasaran karena janjinya pada Amidamaru
tidak terpenuhi. Begitu juga Amidamaru jadi hantu penasaran karena telah banyak
membunuh.

No comments:
Post a Comment