Wednesday, January 10, 2018

Spirit of The Little Child

Siang hari yang cerah di persimpangan jalan. Icigo melintasi jalan di mana seorang anak kecil meninggal. Icigo melihat sebuah botol yang berisikan kembang-kembang terjatuh oleh tiga orang berandalan. 
 
“ hei kalian bertiga?,” tanya Icigo.


Mereka bertiga menoleh ke belakang  melihat sosok seorang anak sekolah berambut kuning genteng. 


“ ada apa ?,” tanya salah satu anak berandalan.


“ kalian bertiga yang telah menjaduhkan pot bunga dekat tiang listrik,” kata Icigo sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah ketiga berandalan.


“ eeeeh....kelau iya kenapa?,” kata satu pemuda berandalan.


“ jadi bener kalian yang melakukannya,” kata Icigo.


Salah satu pemuda berandalan dateng menyerang Icigo denga tinjuan. Dengan istingnya Icigo menyerang dengan tendangan ke arah mukanya.


“ eee..ah,” kata pemuda berandalan.


“ dasar orang brengsek,” kata Icigo.


Dengan tekan yang kuat pada kaki Icigo mementalkan pemuda berandalan sampai terjatuh ke jalan aspal.  Kemudian salah satu pemuda menyerang lagi maju ke hadapan Icigo. Dengan teknik tendangan karate ke arah muka pemuda berandalan sampai terpental  jauh dan jatuh ke jalan aspal.


“ siapa lagi yang mau lagi saya hajar,” kata Icigo yang bersemangat bertarung.


Ketiga pemuda berandalan langsung melarikan diri dengan lari terbirit-birit.  Lalu Icigo menyambangi botol yang terjatuh. Di susun kembali bunga yang berceceran dan di masukan ke dalam botol, lalu di berdirikan dekat tiang. Roh hantu anak kecil muncul di hadapan Icigo.


“ kenapa kak bersikap seperti itu?,” tanya roh hantu anak kecil.


“ eh ..sudah biasa menolong sesama,” kata Icigo.


“ termasuk roh penasaran seperti saya,”  ujar anak kecil.


“ ya..benar sekali... semoga kamu tenang di dunia sana,” doa Icigo.


“ terima kasih atas semuanya,” kata roh anak kecil.


“ ya sama-sama,” jawab Icigo.


Roh penasaran anak kecil menghilang pergi ke dunia lain. Icigo langsung  pergi meninggalkan  daerah situ menuju ke rumahnya. Selang berapa saat Icigo sampai di rumahnya. Dengan membuka pintu Icigo masuk ke dalam rumah.


“ saya pulang,” kata salam Icigo.


“ ya.....silakan masuk kak,” jawab Ina adiknya.


Sang ayah dateng ke hadapan Icigo.


“ icigo kalau begitu ayo kita bertarung,” kata sang Ayah.


“ maleslah,” jawab Icigo.


Sang ayah masih saja ngotot. Menyeranglah Icigo  dengan tinjuan. Lagi-lagi dengan isting teknik karatenya menendang sang ayah dengan sangat kuat sampai terpental menabrak diding rumah.


“ eee...ah...bruuuk,” suara ayah di barengi jatuh.


Icigo segera mendatengi  meja makan. Adiknya Ina telah menyiapkan makan. Icigo menaruh tasnya  di sebuah kursi, lalu segera Icigo duduk di situ. Ina langsung menyajikan makan ke hadapan  Icigo.


“ silakan di makan kak,” kata Ina.


“ ya...terima kasih Ina,” kata Icigo.


Sedang sang ayah bangkit dari jatuh bertingkah lagi   seperti biasanya. Kekanak-kanakanya membuat ilfil anak-anaknya. Sang ayah selalu saja memuji istrinya yang cantik jelita yang fotonya di pajang dinding sangat besar. 


“ eeh seperti biasanya,” helakan Ina.


“ ya begitu ayah,” sahut Karin.


“ gak peduli dengan sifat ayah,” kata Icigo.


“ kak Icigo enak anak laki keluar semaunya. Nak kami anak cewek ayah bingung dengan sifat ayah yang selalu berubah-ubah,” kata Karin.


“ betul itu kak,” sahut Ina.


“ ya mau gimana udah sifatnya,” ujar Icigo.


Sang ayah mendatengi anak-anaknya yang sedang santai menyantap makan siang. 


“ anak-anak kalau begitu ayah pergi dulu ada urusan penting. Jangan nakal di rumah. Baik-baik, ya menjaga rumah. Kalau ada apa-apa segera hubungin ayah,” kata  sang Ayah Icigo.


“ ok.....Ayah,” sahut Ina.


“ hee,” sahut Karin dengan mengangguk.


“ iya lah...hati-hati di jalan,” sahut Icigo.


Sang Ayah keluar dari rumah menuju tempat yang di tuju. Icigo dan adik-adiknya menikmati makan enak yang di siapkan Ina.

No comments:

Post a Comment