Siang hari yang cerah di
persimpangan jalan. Icigo melintasi jalan di mana seorang anak kecil meninggal.
Icigo melihat sebuah botol yang berisikan kembang-kembang terjatuh oleh tiga
orang berandalan.
“ hei kalian bertiga?,”
tanya Icigo.
Mereka bertiga menoleh ke
belakang melihat sosok seorang anak
sekolah berambut kuning genteng.
“ ada apa ?,” tanya salah
satu anak berandalan.
“ kalian bertiga yang telah
menjaduhkan pot bunga dekat tiang listrik,” kata Icigo sambil mengacungkan jari
telunjuk ke arah ketiga berandalan.
“ eeeeh....kelau iya
kenapa?,” kata satu pemuda berandalan.
“ jadi bener kalian yang
melakukannya,” kata Icigo.
Salah satu pemuda berandalan
dateng menyerang Icigo denga tinjuan. Dengan istingnya Icigo menyerang dengan
tendangan ke arah mukanya.
“ eee..ah,” kata pemuda
berandalan.
“ dasar orang brengsek,”
kata Icigo.
Dengan tekan yang kuat pada
kaki Icigo mementalkan pemuda berandalan sampai terjatuh ke jalan aspal. Kemudian salah satu pemuda menyerang lagi
maju ke hadapan Icigo. Dengan teknik tendangan karate ke arah muka pemuda
berandalan sampai terpental jauh dan
jatuh ke jalan aspal.
“ siapa lagi yang mau lagi
saya hajar,” kata Icigo yang bersemangat bertarung.
Ketiga pemuda berandalan
langsung melarikan diri dengan lari terbirit-birit. Lalu Icigo menyambangi botol yang terjatuh.
Di susun kembali bunga yang berceceran dan di masukan ke dalam botol, lalu di
berdirikan dekat tiang. Roh hantu anak kecil muncul di hadapan Icigo.
“ kenapa kak bersikap
seperti itu?,” tanya roh hantu anak kecil.
“ eh ..sudah biasa menolong
sesama,” kata Icigo.
“ termasuk roh penasaran
seperti saya,” ujar anak kecil.
“ ya..benar sekali... semoga
kamu tenang di dunia sana,” doa Icigo.
“ terima kasih atas
semuanya,” kata roh anak kecil.
“ ya sama-sama,” jawab
Icigo.
Roh penasaran anak kecil
menghilang pergi ke dunia lain. Icigo langsung
pergi meninggalkan daerah situ
menuju ke rumahnya. Selang berapa saat Icigo sampai di rumahnya. Dengan membuka
pintu Icigo masuk ke dalam rumah.
“ saya pulang,” kata salam
Icigo.
“ ya.....silakan masuk kak,”
jawab Ina adiknya.
Sang ayah dateng ke hadapan
Icigo.
“ icigo kalau begitu ayo
kita bertarung,” kata sang Ayah.
“ maleslah,” jawab Icigo.
Sang ayah masih saja ngotot.
Menyeranglah Icigo dengan tinjuan.
Lagi-lagi dengan isting teknik karatenya menendang sang ayah dengan sangat kuat
sampai terpental menabrak diding rumah.
“ eee...ah...bruuuk,” suara
ayah di barengi jatuh.
Icigo segera mendatengi meja makan. Adiknya Ina telah menyiapkan
makan. Icigo menaruh tasnya di sebuah
kursi, lalu segera Icigo duduk di situ. Ina langsung menyajikan makan ke
hadapan Icigo.
“ silakan di makan kak,”
kata Ina.
“ ya...terima kasih Ina,”
kata Icigo.
Sedang sang ayah bangkit
dari jatuh bertingkah lagi seperti
biasanya. Kekanak-kanakanya membuat ilfil anak-anaknya. Sang ayah selalu saja
memuji istrinya yang cantik jelita yang fotonya di pajang dinding sangat besar.
“ eeh seperti biasanya,”
helakan Ina.
“ ya begitu ayah,” sahut
Karin.
“ gak peduli dengan sifat
ayah,” kata Icigo.
“ kak Icigo enak anak laki
keluar semaunya. Nak kami anak cewek ayah bingung dengan sifat ayah yang selalu
berubah-ubah,” kata Karin.
“ betul itu kak,” sahut Ina.
“ ya mau gimana udah
sifatnya,” ujar Icigo.
Sang ayah mendatengi anak-anaknya
yang sedang santai menyantap makan siang.
“ anak-anak kalau begitu
ayah pergi dulu ada urusan penting. Jangan nakal di rumah. Baik-baik, ya
menjaga rumah. Kalau ada apa-apa segera hubungin ayah,” kata sang Ayah Icigo.
“ ok.....Ayah,” sahut Ina.
“ hee,” sahut Karin dengan
mengangguk.
“ iya lah...hati-hati di
jalan,” sahut Icigo.
Sang Ayah keluar dari rumah
menuju tempat yang di tuju. Icigo dan adik-adiknya menikmati makan enak yang di
siapkan Ina.

No comments:
Post a Comment