Seorang anak bernama Genta membawa buku
esklopedia mengenai roh alam. Sambil berjalan Genta sibuk membaca sampai di
kuburan tua. Genta menceritakan sedikit pemahamannya dari buku bacaannya ke Yo
yang sedang bersantai di bawah pohon bersama
Genta.
“ Di masa lalu ada suku
pedalaman memanggil roh untuk pengobatan. Roh alam itu di puja-puja
sampai-sampai di buatkan patung-patung atau topeng untuk mengenang roh alam
tersebut. suku-suku yang memuja roh alam contohnya suku Indian, suku india, suku bali, suku
nasrani dan tibet. Roh Alam itu di puja-puja karena dapat menunjukkan ramalan masa
depan. Adapun orang yang mampu mengendalikan
roh di sebut shaman,” kata Genta.
“ jadi begitu ceritanya.
Jadi saya adalah shaman,” sahut Yo.
“ ya bisa dibilang begitu,”
kata Genta.
Yo beranjak dari tempat
bersantainya di bawah pohon sambil tiduran ke
tempat Amidamaru berada.
“ Amidamaru mau kah menjadi
pater ku dalam bertarung,” kata ajakan Yo.
“ dia mengajak roh menjadi
teman bertarung,” kata Genta.
“ ha... maksudnya?,” tanya
Amidamaru.
“ ya.. karena saya tertarik
dengan keahlian pedang mu,” ujar Yo.
“ saya tidak tertarik,
karena menunggu seseorang,” kata Amidamaru.
Amidamaru menghilang
langsung masuk ke dalam makamnya. Yo pun
sedikit terkejut karena ajakannya di tolak. Yo dan Genta meningalkan
kuburan kuno. Berjalan ke suatu tempat, lalu Yo dan Genta berhenti di sebuah
jembatan.
“ apa kah kamu yakin bersatu
dengan Amidamaru. Padahal Amidamaru itu adalah setan yang telah membunuh
seratus orang dengan ayunan pedangnya yang sangat mematikan,” kata Genta.
“ saya merasakan sesuatu
ketika bersatu dengan Amidamaru. Rasa
kehangatan di dalam diri Amidamaru dan juga saya bercita-cita menjadi pengendali roh yang
terbaik. Agar bisa bertemu dengan roh agung dan
berbicara dengannya, lalu bersatu dengannya,” kata Yo.
“ kalau begitu sih terlalu
pelik saya tidak bisa membantu. Karena sudah keinginan kamuYo,” kata Genta.
Hari makin larut di terangi
oleh bulan purnama. Amidamaru keluar bersama teman Si mulut besar.
“ saya si ingin bersatu dengan dengan anak itu.
Bertarung dengan gagah berani,” kata Si mulut
besar.
“ saya tidak lagi tertarik
dengan jenis pertarungan,” kata Amidamaru.
Amidamaru merasakan sesuatu
yang aneh hari ini. Sambil menatap langit. Sedangkan Si mulut tetap ngoceh tidak beraturan dan di abaikan
Amidamaru.
Disisi lain Riu berjalan di
tengah kota sedang meratapi ke kalahan pertarungannya. Sambil melihat bentuk
rambutnya di sebuah toko yang di potong
karena sebuah pertarungan. Anak –anak di
dalam toko melihatnya. Riu geram melihat anak-anak yang mengejek di
belakangnya. Karena Riu menunjukkan sifat buruknya ke anak-anak. Pada akhirnya
anak-anak takut karena geramnya Riu. Kaburlah
anak-anak dari toko.
“ saya harus membalas
perbuatan anak yang telah memotong rambut kesayangan ku,” celoteh Riu dengan
sangat marah.

No comments:
Post a Comment