Wednesday, January 10, 2018

Invitation

Seorang anak bernama Genta membawa buku esklopedia mengenai roh alam. Sambil berjalan Genta sibuk membaca sampai di kuburan tua. Genta menceritakan sedikit pemahamannya dari buku bacaannya ke Yo yang sedang bersantai di bawah pohon bersama  Genta.
 
“ Di masa lalu ada suku pedalaman memanggil roh untuk pengobatan. Roh alam itu di puja-puja sampai-sampai di buatkan patung-patung atau topeng untuk mengenang roh alam tersebut. suku-suku yang memuja roh alam contohnya  suku Indian, suku india, suku bali, suku nasrani dan tibet. Roh Alam itu di puja-puja karena dapat menunjukkan ramalan masa depan. Adapun orang yang mampu mengendalikan  roh di sebut shaman,” kata Genta.

“ jadi begitu ceritanya. Jadi saya adalah shaman,” sahut Yo.

“ ya bisa dibilang begitu,” kata Genta.

Yo beranjak dari tempat bersantainya di bawah pohon sambil tiduran ke  tempat Amidamaru berada.

“ Amidamaru mau kah menjadi pater ku dalam bertarung,” kata ajakan Yo.

“ dia mengajak roh menjadi teman bertarung,” kata Genta.

“ ha... maksudnya?,” tanya Amidamaru.

“ ya.. karena saya tertarik dengan keahlian pedang mu,” ujar Yo.

“ saya tidak tertarik, karena menunggu seseorang,” kata Amidamaru.

Amidamaru menghilang langsung masuk ke dalam makamnya. Yo pun  sedikit terkejut karena ajakannya di tolak. Yo dan Genta meningalkan kuburan kuno. Berjalan ke suatu tempat, lalu Yo dan Genta berhenti di sebuah jembatan.

“ apa kah kamu yakin bersatu dengan Amidamaru. Padahal Amidamaru itu adalah setan yang telah membunuh seratus orang dengan ayunan pedangnya yang sangat mematikan,” kata Genta.

“ saya merasakan sesuatu ketika bersatu dengan Amidamaru. Rasa  kehangatan di dalam diri Amidamaru dan juga  saya bercita-cita menjadi pengendali roh yang terbaik. Agar bisa bertemu dengan roh agung dan  berbicara dengannya, lalu bersatu dengannya,” kata Yo.

“ kalau begitu sih terlalu pelik saya tidak bisa membantu. Karena sudah keinginan kamuYo,” kata Genta.

Hari makin larut di terangi oleh bulan purnama. Amidamaru keluar bersama teman Si mulut besar. 

  saya si ingin bersatu dengan dengan anak itu. Bertarung dengan gagah berani,” kata Si mulut  besar.

“ saya tidak lagi tertarik dengan jenis pertarungan,” kata Amidamaru.

Amidamaru merasakan sesuatu yang aneh hari ini. Sambil menatap langit. Sedangkan Si mulut  tetap ngoceh tidak beraturan dan di abaikan Amidamaru. 

Disisi lain Riu berjalan di tengah kota sedang meratapi ke kalahan pertarungannya. Sambil melihat bentuk rambutnya  di sebuah toko yang di potong karena  sebuah pertarungan. Anak –anak di dalam toko melihatnya. Riu geram melihat anak-anak yang mengejek di belakangnya. Karena Riu menunjukkan sifat buruknya ke anak-anak. Pada akhirnya anak-anak takut karena geramnya Riu. Kaburlah  anak-anak dari toko.

“ saya harus membalas perbuatan anak yang telah memotong rambut kesayangan ku,” celoteh Riu dengan sangat marah.

No comments:

Post a Comment