Siang hari yang cerah Yo
berjalan-jalan di pinggir kali bersama Genta. Yo berpikir panjang untuk
menyelesaikan masalah Amidamaru. Genta mendengarkan ocehan Yo dengan seksama
terkadang merasa bingung dengan ulah Yo, tetap saja mengikuti ke mana Yo mau
pergi?. Yo dan Genta tidak sengaja bertemu dengan petugas musium yang sedang
menenteng sepedahnya dan sapu.
“ halo pak,” salam Yo.
“ kamu lagi mau melihat
pedang lagi,” kata Pak petugas.
“ ya begitu lah,” kata Yo.
“ kenapa kita kesini?,”
tanya Genta.
“ di sinilah senjata
Amidamaru di simpan,” kata Yo.
“ itu benar sekali,
terkadang tiap malam ada suara tangisan
pada pedang,” cerita Pak petugas.
Kemudian Pak petugas
menghidupkan lampu musium dan masuklah mereka ke dalam sebuah pedang yang di
simpan di kotak kaca.
“ jadi ini pedangnya ,” kata
Genta sambil memperhatikan pedang di kotak kaca.
” kalau begitu saya
tinggal.. ya,” kata Pak petugas.
“ ya..Pak...,” kata Yo dan
Genta.
Menungulah Yo dan Genta di
dalam ruangan. Muncullah sebuah tetesan air membasahi pedang herusame. Genta
melihatnya terkejut sekali. Dengan santai Yo menyaksikan kejadian tersebut.
“ halo...,” kata Yo.
“ jadi kalian bisa melihat
saya?,” tanya Tungku.
“ ya..begitulah....,” jawab
Yo.
“ ya..,” jawab Genta dengan
perasaan takut.
“ kenapa kamu bersedih?,”
tanya Yo.
“ karena saya tidak bisa
menepati janji dengan teman ku Amidamaru. Pedang ini belum selesai dibuat,”
kata Tengku.
“ kalau begitu gunakan saya
untuk menyelesaikan pembuatan pedang
ini. Pada akhirnya bisa menepati janji mu pada Amidamaru,” kata Yo.
“ ha...,” terkejut Tengku.
“ itu benar sekali, karena
dia adalah seorang pengendali roh,” kata Genta.
“ oh begitu baiklah,” kata
Tengku.
“ ayo kita mulai ... Tengku,” sahut Yo.
Tengku berubah menjadi bola
roh dan masukan ke dalam tubuh Yo. Berubahlah Yo menjadi Tengku terlihat dari
perangainya. Mulai lah Yo mengambil pedang di dalam kotak kaca. Pergilah Yo
dengan membawa pedang ke suatu tempat.
Selang berapa saat Yo sampai di tempat pandai besi. Pedang herusame
mulai di tempa oleh Yo dengan energi roh Tengku. Genta membantu Yo dalam
pembutan pedang herusame. Dengan tempaan yang baik di serai dengan panas api
yang cukup jadi lah pedang harusame. Kemudian
segeralah Yo asahnya pedang harusame
supaya tajam. Kerja keras pun Yo selesai. Pedang herusame terlihat
mengkilat dan tajam. Kembalilah Yo ke ruang musium untuk mengembalikan pedang
herusame ke tempatnya yaitu ke dalam kotak kaca.
Roh Tengku keluar dari tubuh
Yo.
“ terima kasih sudah
membantu saya,” kata Tengku.
“ ya....sama-sama,” kata Yo.
Terlihat sebuah sinar terang
menyinari roh Tengku.
“ haa apa itu?,” tanya
Genta.
“ oh..itu....jika roh sudah
selesai dengan urusannya di dunia, maka dia akan kembali ke hadapan roh
agung,” sedikit penjelasan Yo.
“ oh begitu,” kata Genta.
“ terima kasih teman-teman,”
kata Tengku sambil menangis.
Naiklah Tengku ke langit dan
menghilang bersama cahaya. Yo dan Genta meninggalkan musium. Keesokan pagi
harinya Pak petugas dateng ke musium.
“ haa...pedang herusamenya,”
kata Pak petugas.
Pak petugas mencoba memeriksa
penglihatanya dengan mengucek dengan ke dua tangannya untuk mememastikan
penglihatannya.
“ ternyata bener... pedang
herusame menjadi bagus sekali,” kata Pak petugas.
Setelah mendengar kabar
bahwa pedang herusame menjadi bagus.
Musium menjadi ramai pendatang untuk melihat kebenaran bahwa pedang yang
tadinya berkarat menjadi bagus dan tajem.

No comments:
Post a Comment